Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,8% di 2019, Bagaimana Caranya?

08.17


Pemerintah telah memutuskan  sasaran perkembangan  ekonomi pada kisaran 5,4–5,8% pada 2019. Sasaran perkembangan  ini ditunjukkan  untuk mendorong pemerataan perkembangan  di semua  wilayah Indonesia.

Pemerataan dilaksanakan  dengan mengemban  percepatan pembangunan area  timur Indonesia, distrik  perbatasan, area  terluar, dan wilayah  tertinggal. Dari sisi inflasi, pemerintah akan mengawal  pada rentang 3,5% plus minus 1%. Sementara guna  rata-rata nilai tukar rupiah 2019 diproyeksi bakal  berada dalam rentang Rp13.700–14.000 per dolar Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah dalam rentang yang mencukupi  tidak tidak jarang  kali  berarti negatif terhadap perekonomian domestik. Depresiasi nilai tukar pada batas tertentu dapat dominan    positif untuk  perbaikan daya saing produk ekspor Indonesia, yang pada gilirannya mendorong perkembangan  ekonomi.

”Kita mesti terus mencoba  perkembangan industri manufaktur dan jasa,tergolong  pariwisata supaya  mampu memanfaatkan kondisi  tersebut. Pemerintah bareng  Bank Indonesia (BI) bakal  terus mengelola stabilitas ekonomi dan pergerakan nilai tukar tersebut supaya  tidak terjadi volatilitas yang merusak iklim usaha dan kegiatan  ekonomi,” ujarnya dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR Jakarta.

Sri Mulyani melanjutkan, perekonomian Indonesia pada 2019 masih akandiprovokasi  perkembangan sektor finansial  global. Kenaikan Fed Fund Rate memengaruhi pergerakan eskalasi  suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan.

Namun demikian, dengan didukung oleh perbaikan kinerja perekonomian nasional, terjaganya laju inflasi dan nilai tukar, maka tekanantekanan yang berasal dari ketidakpastian perekonomian global diinginkan  dapat diminimalkan. ”Untuk APBN, anda  memperkirakan rata-rata suku bunga SPN 3 bulan pada 2019 di kisaran 4,6–5,2%,” jelasnya.

Sementara itu, dinamika global pun  berimbas untuk  harga minyak dunia. Asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude-oil price (ICP) pada tahun 2019, diduga  berada pada kisaran USD60–70 per barel. ”Pada 2019, harga minyak mentah dunia diduga  akan merasakan  peningkatan sebab  naiknya permintaan sebagai dampak  mulai pulihnya perekonomian global,” paparnya.

Sri Mulyani menuturkan, asumsi lifting minyak bumi pada 2019 diduga  mencapai selama  722.000–805.000 barel per hari. Lifting gas bumi selama  1,21–1,3 juta barel setara minyak per hari. Sri Mulyani menegaskan, secara garis besar, kepandaian  pendapatan negara pada 2019 ditunjukkan  untuk mendorong optimalisasi penghasilan  negara.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.